
1. Rendahnya rasa tanggung-jawab dalam mengelola dana publik.

2. Membentuk UU/Perda tanpa landasan filosofis, sosiologis dan yuridis.
3. Membentuk UU/Perda untuk kepentingan tertentu dan tidak cermat.
4. Studi Banding ke luar-negeri, tetapi hasil minim dan tidak memadai.

5. Perda dibuat untuk kepentingan PAD dan memberatkan ekonomi masyarakat dan dunia usaha.
6. Tenaga Ahli yang dipakai tidak berkompeten.

7. Mengulur waktu untuk menggagalkan UU/Perda dengan alasan tidak rasional.
8. Pengawasan Parlemen diterjemahkan sebagai mencari kesalahan eksekutif, menjatuhkan lawan politik dan mencari imbal jasa.
9. Meminta Komisi dari hasil kerja sama pihak-ketiga dalam pengadaan barang dan jasa yang seharusnya masuk Kas Negara.
10. Menerima pemberian yang dapat dikualifikasi sebagai Gratifikasi.
No comments:
Post a Comment