Saturday, September 17, 2011

MANUSIA CENDERUNG BERBUAT HINA.




Manusia, cenderung berbuat hina, karena manusia adalah makhluk yang selalu membuat keonaran dan pertumpahan darah.

Kutipan surat Al Hijr 15:28-29,

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu ber firman kepada para malaikat: “ Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Firman Allah di atas adalah penjelasan dari peristiwa kejadian manusia; di mana para makhluk baik malaikat maupun syaitan mempertanyaan kebijakan Allah yang akan menciptakan manusia, yang menurut pandangan para malaikat adalah makhluk yang selalu membuat keonaran dan pertumpahan darah, seperti disebutkan dalam QS 2: 30.

Tidak heran bila syaitan dengan sengitnya memprotes kedudukan manusia yang dipandang rendah, yang hanya diciptakan dari unsur tanah yang hina, dibandingkan dengan syaitan yang diciptakan dari api.
Jadi apabila kita jumpai disekeliling kita, fenomena-fenomena yang buruk bahkan hina, itulah sifat yang sebenar-benarnya yang menjadi ‘bahan-baku’ manusia.

Perbuatan tipu-menipu, Korupsi, bahkan berjamaah tanpa rasa malu apalagi takut. Bahkan media turut memberi  lahan yang luas untuk dapat menggelar dan mempertontonkannya secara spektakuler. Para penjahat ini  tanpa canggung, tersenyum bahkan melambai-lambaikan tangannya ketika sadar disorot oleh kamera.

Para pengacara juga turut diuntungkan dengan maraknya kasus ini; tanpa risi mereka mencari celah-celah hukum untuk mencari pembenaran atas klien yang membayarnya. Kalau bisa kliennya bebas dari segala tuntutan yang menjeratnya.

Tak kalah cerdiknya kerja polisi dan jaksa dalam memilah-milah perkara mana yang “basah” dan kasus mana yang “kering”. Tentu saja media juga mengambil keuntungan peristiwa mana yang punya nilai jual tinggi dalam rangka menaikan “rating” nya.

Semua ini semakin mempetegas, bahwa Allah menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, bukan dari cahaya atau api.

Banyak para ahli mereka-reka hipotesa, bahwa korupsi berakar dari minimnya tingkat kesejahteraan, sehingga mereka tergoda untuk korupsi. Saya termasuk orang yang tidak percaya pada hipotesa ini; faktanya sebagian besar pelaku korupsi adalah mereka yang penghasilannya jauh di atas rata-rata penghasilan yang wajar. Sementara di akar rumput mereka hanya bisa korupsi “waktu” yang secara moral tetap saja tidak benar.

Bicara tentang moral, hanya para malaikat yang terbuat dari cahaya yang memilikinya, mereka yang terbuat dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, apakah juga pantas untuk memilikinya ?.

Dalam Kitabullah diceriterakan ada satu kaum yang memiliki nafsu besar yang konstan, di mana muara nafsu itu adalah nafsu untuk terus hidup dan berkuasa dikarenakan kecintaannya yang begitu lebay kepada kehidupan (dunia; dibaca materialisme). Mereka adalah kaum Yahudi, seperti secara gamblang dituliskan dalam surat Al_Baqarah ayat 96 (QS 2:96):

“ Sungguh akan engkau dapati mereka itu (kaum Yahudi) serakus-rakusnya manusia terhadap kehidupan, bahkan lebih rakus daripada orang musyrik. Salah seorang dari mereka sangat ingin diberi umur seribu tahun…”.

Karena pemimpin kita tidak lagi berkiblat ke Qiblatullah, tetapi  selalu meniru dan mencontoh negeri adikuasa yang diarsiteki dan dikuasai para Yahudi itu, tidak heran bila yang dahulu diceriterakan di dalam Kitabullah sekarang terjadi di sini, di negeri kita sendiri.

Media yang menjadi pilar ke-empat kehidupan pun juga sudah menjadi corong para Yahudi, kebudayaan ala Yahudi secara latent telah diselundupkan ke dalam kehidupan bangsa ini dan disosialisasikan seakan menjadi bagian dari budaya sendiri, semisal acara ulang-tahun, Valentine’s Day, Haloween dan sebangsanya.

Maka apabila ceritera yang ditamsilkan dan atau dikisahkan dalam Kitabullah dalam setting waktu dahulu, hari ini cerita itu telah terjadi di tengah-tengah kita, di dalam bangsa kita sendiri.

Lebih menyedihkan lagi, tatkala membaca berita bahwa para Kyai, yang seharusnya menjadi panutan ummat, turut menikmati uang hasil korupsi, audzubillahimindzaliq …

Ribuan bahkan ratusan ribu Nabi telah Allah turunkan, termasuk ratusan Rasul untuk ‘mengawal’ keputusanNya dalam menciptakan manusia. Toh,  “ keonaran dan pertumpahan darah ” terus saja terjadi sampai hari ini. Akar masalahnya selalu sama ketamakan dan haus kekuasaan.

Raga manusia memang termasuk dalam derajat terendah, tapi saya percaya ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi.

Karena kelembutan Illahi dan kebijakan Allah yang dibisikkan ke dalam relung rahasia dan misteri malaikat dalam peristiwa penciptaan manusia (QS 2:30):

“ …Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian tidak ketahui.”

Hikmah yang terkandung dalam hal ini adalah bahwa manusia mesti mengemban amanat pengetahuan tentang Allah. Oleh karena itu, mereka harus mempunyai kekuatan dalam dua dunia ini untuk mencapai kesempurnaan, sebab tidak sesuatupun di kolong langit ini yang mempunyai kekuatan yang mampu mengemban beban amanat. Mereka memiliki kekuatan ini melalui esensi sifat-sifat ruhnya bukan melalui raganya.

Mudah-mudahan Allah dengan kuasaNya dapat mengingatkan mereka yang tengah mabuk dalam kekuasaan untuk segera kembali pada fitrahnya, apabila tidak ingin kelak abadi dalam neraka jahanam.

Saturday, August 27, 2011

WASIAT UNTUK ANAK-ANAK DAN ISTERIKU.


Jam 20.00 ketika kami sedang melakukan shalat tarawih, isteri saya mendapat kabar duka dari seorang sahabatnya yang mengabarkan bahwa suaminya baru saja meninggal dunia.

Tentu saja berita ini sangat mengejutkan, mengingat secara syariat, sang suami usianya relatif jauh lebih muda dibanding dengan usia saya.

Tetapi momen keterkejutan ini justru ingin saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengingatkan keluarga saya bahwa, " Semua mahluk hidup akan mengalami mati ". Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati, oleh sebab itu, seorang yang beriman seharusnya kapan saja "siap" untuk mati, karena peristiwa itu adalah hak prerogative Sang Khalik yang tidak bisa diganggu gugat.

Sekalipun dalam setiap kesempatan berdo'a, saya selalu memohon kepadaNya untuk diberi kesempatan untuk meng-imami mereka, sampai mereka dapat imam yang lebih baik dari pada saya, yaitu suami yang akan membimbingnya menuju syurga yang Allah janjikan.

Pada kesempatan ini, saya kutipkan cerita Lukman Al-Hakim yang berwasiat kepada puteranya, " Hai puteraku, ketahuilah bahwa aku telah berkhidmat kepada 400 nabi dan aku  telah mendapatkan 4.000 kata hikmah dari mereka, dan dari 4.000 kata hikmah tersebut aku pilih 400, dan dari 400 itu aku pilih 40 kata, dan dari 40 kata aku ambil 8 kata hikmah, dan 8 kata hikmah tersebut ialah :

" LUPAKAN DUA HAL, jangan lupakan dua hal lainnya, dan jaga 4 hal. Adapun dua hal yang harus engkau lupakan adalah hendaknya kau lupakan PERBUATAN BAIKMU kepada seseorang dan yang kedua, hendaknya kau lupakan PERBUATAN BURUK ORANG LAIN terhadapmu ".

" Adapun dua hal yang TIDAK BOLEH kau LUPAkan, pertama adalah ALLAH. Janganlah sekali-kali engkau melupakan-Nya (sebab semua maksiat timbul dari lalai dan lupa kepada Allah) dan yang kedua adalah KEMATIAN, sebab pada saat manusia yakin bahwa dirinya akan mati, ia pasti akan mempersiapkan bekal bagi perjalanan akhirnya itu ".

Adapun empat hal yang harus selalu engkau jaga:

# Pertama JAGALAH MATAMU, ketika sedang bertandang ke rumah orang.
# Kedua JAGALAH LIDAHMU, ketika kamu berada di tengah-tengah masyarakat.
# Ketiga, JAGALAH MULUTMU, dari makanan yang haram.
# Keempat, ketika Shalat JAGALAH HATIMU, hanya untuk Allah, janganlah engkau palingkan kepada selain-Nya ".

(Dikutip dari Buku Dr. Haidar Bagir: Buat Apa Shalat?)



Tuesday, August 2, 2011

BERKEMAH DI SITU GUNUNG.

Tulisan ini dibuat oleh: Luqyana Nesia_Kelas VIA_SD Negeri 04 Pagi, Cipinang Melayu_Jakarta Timur.
Untuk memenuhi Tugas Bahasa Indonesia, semester 1.

Pada saat liburan, aku dan keluargaku termasuk di dalamnya paman, bibi dan sepupuku berkemah ke Situ Gunung, Kadudampit dekat Cisaat - Suka Bumi.  

Kami berangkat menggunakan 2 mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan di Tol Jagorawi, kami keluar dulu di Cibubur untuk menunggu keluarga Om Jajang yang datang dari arah Depok. Beberapa lama kemudian, keluarga Om Jajang datang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Suka Bumi.

Dalam perjalanan ke Suka Bumi, waktu sudah menunjukan jam 6 sore. Pada saat itu, jalanan menjelang Lido macet. Kami pun sepakat untuk melewati jalan alternatif.

Ternyata  jalan alternatif itu, penerangannya kurang, jalanan sempit, dan juga berliku-liku. Bila ada mobil yang berpapasan, kita harus sabar menunggu cukup lama sampai jalanan bisa dilewati dengan aman.

Setelah beberapa jam perjalanan, kami sampai di jalan utama lagi. Pada saat itu, jam sudah menunjukan sekitar jam 19:30.

Pada akhirnya kami sampai juga di Situ Gunung. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22:30. Kami pun segera mengeluarkan semua peralatan dan bekal dari mobil di bawa ke lokasi lalu mendirikan kemah. Setelah semua tenda terpasang, kami pun bersiap-siap untuk tidur. Hari yang cukup melelahkan.

Esoknya setelah kami sarapan, kami berjalan-jalan ke Danau Situ Gunung. Pemandangan di sana cukup indah. Di sana kami berfoto sambil ngobrol-ngobrol. 

Setelah puas berfoto kami kembali ke tempat perkemahan, Om Jajang mengadakan Game, Game yang pertama adalah bermain Pavilion, dan yang keluar sebagai pemenang adalah Tante Dini. 

Setelah game yang pertama selesai, dilanjutkan dengan game yang kedua, yaitu Menggambar. Di game ini, peserta harus menggambar wajah juri. Kertas diletakkan di atas dada/perut peserta yang berdiri menghadap Juri. Pandangan peserta lurus ke depan, tidak boleh menunduk melihat gambar. Saat selesai, jurinya menampilkan hasil gambar-gambar para peserta. Semuanya tertawa terpingkal-pingkal saat melihat hasil gambarnya masing-masing. 


Setelah selesai game kedua, kami makan siang. Setelah makan siang, kami pun beristirahat sebentar. Ada yang tidur-tiduran, main game di laptop, sambil mendengarkan musik.

Hari sudah semakin  sore kami pun mandi secara bergantian karena, kamar mandinya terbatas, harus bergantian dengan peserta kemah dari kelompok/keluarga lainnya.

Setelah semuanya mandi, kami melanjutkan game berikutnya. Di game yang ketiga ini kami hanya disuruh menjawab pertanyaan tentang silsilah keluarga nenek dan kakek. Saat dibacakan jawabannya, kami semua tertawa. Jawabannya lucu-lucu. 

Setelah selesai game yang ketiga, dilanjutkan ke game keempat atau game yang terakhir.

Selesai bermain game, saatnya untuk makan malam. Lalu dilanjutkan dengan acara bakar-jagung.

Jam sudah menunjukan jam 10 malam. Saudara-saudara yang lain sudah tidur dan yang diluar tenda tinggal aku, Nico sepupuku dan Tante Elly. Diluar kami bercerita-cerita saja sampai sekitar jam setengah 12. 


Besoknya, setelah sarapan kami langsung mandi karena hari ini kami mau pulang ke rumah masing-masing. Setelah kami semua mandi, kami berkemas dan membersihkan bekas lokasi perkemahan dari sampah dan bekas kemasan, sesuai tata-tertib yang berlaku di semua Camping Ground.


Sebelum kami pulang, kami sempat jajan dan berfoto  dulu disekitar pintu masuk Camping Site Situ Gunung. 


Setelah itu, kami memasukan barang-barang ke mobil, rombongan dibagi dua, tujuan Depok dan Bekasi.

Kami pulang melewati jalan yang sama dengan waktu berangkat tetapi tanpa macet dan tanpa harus melewati jalan alternative yang berliku.

Diperjalanan pulang suasana dalam mobil sepi, karena semua kelelahan, hanya ayahku yang harus tetap terjaga, karena ia bertindak sebagai ‘pilot’.

Kami tiba kembali di Bekasi menjelang waktu Maghrib.

Situ Gunung, we’ll be back …

(Baca juga tulisan yang menginspirasi tulisan ini, "Camping itu Asyik ..." ).